Senin, 05 November 2012

ASAL USUL KOTA TANJUNG PINANG

Pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah bandar kecil Anjang Luku di pantai barat Pulau Bintan. Konon disitulah tempat persinggahan Laksamana Hang Tuah, tatkala beliau berlayar dari Malaka Pulau ke Sungai Duyung Ulu Bintan, kampung halamannya.

Menurut yang empuhnya cerita, bandar kecil Anjang Luku itu banyak sekali ditumbuhi pokok pinang. Batang-batang  pinang itu berjejer di pinggir pantai, berseleret-leret sejak Tanjung Buntung hingga ke muara Sungai Bintan. Paling subur tumbuhnya berumpun-rumpun, disekitar cabang anak sungai yang menngalir dari bukit ke lembah. Tandanya di situ memiliki sumber air. Air itupun senantiasa mengalir, tidak pernah susut sekalipun musim kemarau.

Tidaklah mengherankan jika sesudah zaman Laksamana Hang Tuah itu pun bandar kecil Ajang Luku masih cukup ramai disinggahi orang. Ada yang berhenti untuk berlindung dari angin ribut yang tengah membadai, dan ada pula pelaut yang singgah mengambil air perbekalannya.

Lain halnya dengan Sultan Ibrahim dari Malaka. Baginda memanfaatkan bandar kecil Ajang Luku itu sebagai tempat perhimpunan para saudagar dan pedagang antar suku bangsa. Di situlah mereka berkumpul, baik saqudagar dari Jawa, Bugis Makasar dan Minangkabau, maupun saudagar dari Melayu untuk bermusyawarah.

Oleh karena itu, penuh sesaklah pantai barat Pulau Bintan bagian selatan ketika itu. Beratus-ratus buah kapal-layar besar-kecil, seta sampan perahu beraneka ragam berlabuh di pantai Ajang Luku. Riuh-rendah siang dan malam. Karena ramainya orang. Ada yang sibuk memasak dan ada juga yang sibuk mengambil air minum di anak cabang Sungai Bintan. Sebagian mereka itu mencari kayu api di bukit-bukit, memasuki hutan belukar. Para saudagar, pedagang dan Sultan Ibrahim tengah sibuk mengadakan sidang. Permusyawaraan dilaksanakan di kembah-kembah, sengaja didirikan di tepi pantai.

Sultan Ibrahim pun bertitah “Wahai seksalian saudagar. Kita hendaknya sepakat, menguasai pelayaran niaga. Perdagangan di perairan Malaka dan Selat Riau mesti berada di tangan kita”. Kata baginda lagi,”Kira jaga keamanan di Laut Riau secara bersama-sama, bahu-membahu sesama kita”.

Anjuran Sultan Ibrahim dari Malaka itu konon, disebut dengan “Mufakat Anjang Luku”, yakni tekad bersama untuk menguasai perdagangan di perairan Selat Malaka hingga ke Selat Riau. Yang disebut Selat Riau itu adalah perairan pantai barat Pulau Bintan dan lingkungan pulau-pulau Batam-Rempang-Galang atau disingkat “Barelang”.

Konon sepanjang pelayaran dari Selat Malaka hingga ke Selat Riau dalam abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-18 merupakan alur perdagangan kepulauan Nusantara. Daerah itu dikuasai oleh saudagar anak wathan: Jawa, Bugis, Minangkabau, dan Melayu sendiri. Orang Eropa pada zaman itu saja yang mengelari mereka “Perampok Lamun”, sebab orang asing yang tergabung dalam kompeni itu merasa cukup terhalang dan dihalang-halangi, untuk mengerut keuntungan sebesar-besarnya.

Menurut cerita, ketika itulah para pengikut dan pengiring saudagar yang mengadakan sidang mufakat di Ajang Luku, jika malam hari sibuk pula memasang api unggun. Hal itu mereka lakukan untuk menerangi lingkungan perkemahan pinggir pantai dengan menyalakan api. Cahayanya pun memancarkan terang-benderang. Begitu juga yang dilakukan oleh para pencari kayu bakar yang kemalaman hari di bukit-bukit. Api unggun dinyalakan sebesar-besarnya sebagai penghalau nyamuk, sekaligus merupakan sebuah isyarat. Mereka sedang kemalaman di hutan. Tidak sempat turun ke pantai untuk pulang ke perahu atau perkemahan. Sementara kayu api bertimbun-timbun akan dibawa pulang.

Berpekan-pekan pula lamanya, pantai dan bukit sekitar bandar kecil Ajang Luku itu terang-benderang setiap malam hari. Cahayanya berdendang kuning kemerah-merahan, kelihatan dari setiap penjuru. Tampak jelas dari arah karng-karang laut tempat para nelayan memancing dan melabuh jaring. Mereka itu pun bertanya-tanya, terutama nelayan yang belum sempat ke Ajang Luku beberapa pekan terakhir.

Nelayan itu bertanya kepada penjaring Cina yang bertempat tinggal di Senggarang bersebrangan sungai dengan Ajang Luku.

“Cahaya apa itu yang terang-benderang itu, Sobat?” Tanya mereka keheran-heranan,”Apa sobat tahu?”

“Pi-pei nang,” sahut penjaring Cina. Artinya api-api dinyalakan orang. “Pi-pei nang lho....” kata mereka berlidah pilat tionghoa.

“Oh... Pian pi-nang...,” sahut nelayan Melayu, berarti pantai pinang .
“Ehm... pian pi-nang,”gumam nelayan Melayu yang lain seraya menoleh kearah cahaya api yang terang-benderang itu. Kemudian berkata lagi,”Patutlah, disana banyak pokok pinang. Apakah ada orang membakar pokok-pokok pinang di pian Ajang Luku?”

“Tidaklah sobat,” kata tukang penjaring Cina seraya mengumbaikan jaringnya, “Pi-pei nang...”. maksudnya, bukan pokok pinang terbakar, tetapi api-api unggun orang ramai. Mereka ramai sekali datang bermukim di Ajang Luku, dan suka menyalakan unggun di malam hari.
“Oh... kalau ramai orang di Ajang Luku pi-pei nang itu... besok pagi kita sama-sama berjual ikan di Pi-pei nang”.

“yeak, kita ke pi-pei nang...” sahut para nelayan beramai-ramai.”Ke Pi-pei nang kita...” mereka pun bersorak-sorai. “Heh-houi... kita ke Pi-nang...”

“Ke Pinang?” Tanya nelayan yang berpapasan jalan. “Ehm... mereka akan ke bandar kecil yang banyak pokok pinangnya. Yeak, Ajang Luku bandar kecil berpadar pinang!” katanya dalam hati seraya merangkuh dayung-pendayung mengarahkan perahunya ke Pi-nang juga.
Sejak peristiwa itulah konon, para nelayan Cina menyebut bandar kecil itu “Pi-pei nang”, yang berarti “api-api orang”. Sementara orang Melayu menyebut “Pian-Pinang”, atau pantai pokok-pokok pinang. Karena terletak pada sebuah tanjung maka disebut “Tanjung Pinang”.

DONGENG SUNGAI JODOH


Konon pada suatu hari, Mah Bongsu yang hidup yatim-piatu, tengah sibuk mencuci pakaian putri majikannya diatas batu sungai. Tiba-tiba menggelihatlah seekor ularsebesar lengan. Berenang-renang sambil melengkak-lengkok. Lambat sekali gerakannya, karena sedang menderita sakit. Tampak daging punggungnya seperti bekas dikelar-kelar, sejak dari tengah belakang hingga ke bagian rusuknya.
“Aduh kasihan...,” Mah Bongsu menggeleng-geleng. “Namanya saja makhluk bernyawa. Biar seekor ular sekalipun ia tahu juga merasakan pedih-perih. Tentu ular ini patut ku tolong.” Pikir gadis pengambil upah menumbuk padi, dan pencuci pakaian anak orang-orang kayadi kampungnya itu.
Setelah diperhatikan, ular itu menjulur-julurkan lidah dan menggangkat-angkat kepalanya, maka Mah Bongsu menampung tubuh ularsakit itu dengan bakul cuccian.kemudian, dibawa pulang ke rumah, untuk dirawat dan diobatiseperlunya sampai sembuh.
Selama berpekan-pekan ular luka berkelar itu diobati Mah Bongsu di pondoknya. Tubuh itupun berangsur sembuh, dan badannya kian membesar juga. Setiap kali bertambah besar, kulit ulaar itu mengelupas sedikit demi sedikit. Terlepas sepengal-sepengal setiap malam, berkeping-keping.
“Syukur, akhirnya engkau sembuh juga,” kata Mah Bongsu seraya memungut kulit ular kelupas itu, lalu membakarnya. Asapnya mengempul-ngempul, condong kian kemari mengikuti arah tiupan angin. Sunguh menakjubkan, bila asap itu condong ke Pulau olo ternama sampai berkodi-kodi. Tatkala asap sarung ular itu codong ke negeri Tiongkok maka melayang-layanglah cita-sutra Cina tersohor, masuk ke ruang rumah pondok Mah Bongsu hinga melimpah-ruah. Condong ke India asap kulit ular yang terbakar itu, melayang-layanglah berpuluh kodi tikar permaidani. Begitu juga emas-perak dan uang ringgit berderung-derang bagaikan tercurah darilangit, bila asap itu condong ke Singapura.
Dalam tempo sebulan-dua saja, kaya-rayalah Mah Bongsu, terkenal pula sebagai seorang anak gadis dermawan. Orang kaya sangat suka menolong orang kesusahan dalam kampung, amat pemurah hati senang bersedekah. Karena itu tidaklah memancing iri-dengki para tetangganya. Malahan banyak orang yang bersyukur, memuji-muji Mah Bongsu.
Namun, lain halnya Mak Piah  dan Siti Mayang anak gadisnya. Majikan Mah Bongsu dua beranak ini merasa disaingi. Oleh karena itu,Mak Piah suka mengintip-intip, apa sebenarnya yang membuat kaya raya bekas orang upahannya itu.
Suatu malam, Mak Piah mengintip-intip dari celah-celah dinding rumah pondok kediaman Mah Bongsu.
“Iiiih... ada ular sebesar betis.” pikir Mak Piah.”O... ya, dari kulit ular bersalin yang dibakar, mendatangkan harta-karun? Yeah, baiklah kucari juga ular sebesar itu untuk teman tidur Siti Mayang...,” kata perempuan kaya bekas majikan Mah Bongsu itu. Ia pun bergegas masuk ke hutan, ingin menangkap ularseperti peliharaan Mah Bongsu juga.
“Nah, kini ular bertuah itu kudapati juga,” pikir Mak Piah seraya menangkap seekor ular sedang tertidur. Ular sebesar lengan itu ia masukkan ke dalam goni, lalu lekas-lekas dibawa pulang ke rumahnya.
Seperti tidak sabar lagi akan menjadi orang kaya untuk menandingi kekayaan Mah Bongsu, ular yang baru ditangkap itu pun dimasukan ke kamar tidur Siti Mayang.
‘Ehm...kan? anak gadisku pun punya ular...heh-heh... Siti Mayang akan kaya raya...ehm, kami akan kaya-raya...,” Mak Piah tertawa-tawa sendirian, memainkan angan-angannya.
“Mak... ular melilitku, mak...”tiba-tiba Siti Mayang merintih. “Ular memetok-metok tubuhku... mak...dipetoknya Siti, Mak...”
‘Siti...Siti... sakit sedikit-sedikit tahanlah...” sahut Mak Piah, sambil tersenyum-senyum. Hari esok Siti Mayang jadi orang kaya, sedang beliau tunggu-tunggu.
Luka ditubuh ular peliharaan Mah Bongsu pun telah sembuh. Sementara itu, Mah Bongsu pun sudah menjadi seorang dermawam muda yang cukup terkenal.
“Cuma rumah gedung tiang berjenjang, belum dimilikinya,” pikir ular sebesar pokok kelapa itu. “Ehm, baiklah rumah gedung kediaman Mah Bongsu akan segera dibangun,” kata ular peliharaan Mah Bongsu itu dalam hati.
Ketika itu, Mah Bongsu sendiri belum mengetahui apa yang dipikirkan oleh peliharaannya itu. Malam itu, sebagaimana lazimnya, ia menghidangkan makan malam untuk ularnya saja.
“Ssst... jangan Mah Bongsu terkejut,” bisik ular itu seraya mendongak.” Malam ini juga antar aku... ke sungai pertemuan...”
“Waw!” Mah Bongsu tertegun.”Engkau pandai berkata-kata, ularku?Ayo... marilah kuantar ke sungai tempat kita bertemu setahun yang lalu, ehm...kalau sudah begitu kehendakmu,” kata gadis yatim-piatu yang telah menjadi dermawan muda itu seraya menuntun ularnya keluar rumah, langsung ke sungai.
“Mah Bongsu,” bisik ular itu setelah berada di sungai.”Budimu belum dapat kubalas dengan setimpal. Belum seimbang...yah, aku berutang nyawa...”
“Hai...ularku, bukankah kekayaanku sudah berlimpah, semua darimu?”
Yeak, tapi nilai kasih sayang belum kuberikan... maaf, semoga Mah Bongsu sudi. Aku melamarmu, untuk kujadikan istriku yang sah!” kata ular itu seraya menanggalkan seluruh sarungnya, dan segera menjelma menjadi seorang pemuda berwajah tampan, secara menakjubkan. Sarung ular ajaib itu pun terkembang menjadi sebuah gedung. Cukup megah bangunannya, tertegak di halaman pondok kediaman Mah Bongsu yang konon ketimban rezeki tersebut. Selanjutnya, tempat itu dinamai Desa Tiban asal dari kata ketiban. Artinya kejatuhan keberuntungan, beroleh kebahagiaan.
Kata sahibulhikayat pula, besok harinya terdengarlah suatu pesta meriah di rumah gedung yang mewah itu. Jamuan orang sekampung merayakan hari pernikahan Mah Bongsu dengan pemuda tampan itu, berpengiring beratus-ratus orang. Entah darimana datangnya orang itu, tidak seorang pun tahu. Sementara keluarga Mak Piah yang tamak loba, sibuk menerima kematian Siti Mayang secara menyedihkan. Anak gadis itu korban dipetok ular berbisa yang diangkat ke rumah oleh Mak Piah ibunya sendiri. Karena hendak mendapat kekayaan secara endadak.

Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti itu dipercayai sebagai tempat pertemuan jodoh dan disebut “Sungai Jodoh” hingga sekarang. Banyak orang yang berbasuh diri disatu, hendak mengikuti jejak Mah Bongsu. Mereka ingin mendapat jodoh dan ketiban rezeki setelah pulang berendam diri ke sungai.

Rabu, 31 Oktober 2012

DAFTAR HARGA HP BLACKBERRY SEPTEMBER 2012

Tipe HP Harga Baru Harga Bekas Blackberry Apollo 9360 Rp 2.800.000 Rp 2.400.000 Blackberry Belagio 9790 Rp 3.700.000 Rp - Blackberry Bold 9000 Rp 1.450.000 Rp 1.150.000 Blackberry Bold 9650 Rp 1.800.000 Rp 1.600.000 Blackberry Bold 9700 Rp - Rp 1.750.000 Blackberry Bold 9780 Rp 2.800.000 (-350.000) Rp 2.200.000 Blackberry Bold 9790 Rp 4.250.000 Rp 3.400.000 Blackberry Bold 9900 Rp 5.350.000 Rp 4.300.000 Blackberry Bold9930 Rp 4.350.000 (-275.000) Rp 3.500.000 Blackberry Curve 8310 Rp - Rp 600.000 Blackberry Curve8580 AHA Rp 1.000.000 Rp 700.000 Blackberry Curve8530 SMA Rp 800.000 (-400.000) Rp - Blackberry Curve9220 Rp 1.925.000 Rp - Blackberry Curve9300 3G Rp 2.200.000 (-50.000) Rp 1.500.000 Blackberry Curve9320 Rp 2.550.000 Rp - Blackberry Curve9360 Rp 3.000.000 Rp 2.300.000 Blackberry Curve9380 Rp 2.900.000 Rp 2.400.000 Blackberry Curve gmi 8520 Rp 1.500 (-50.000) Rp 1.050.000 Blackberry Dakota 9900 Rp 5.200.000 Rp 4.500.000 Blackberry Javelin 8900 Rp - Rp 1.250.000 Blackberry Odin 9550 Rp 1.850.000 Rp 1.550.000 Blackberry Onyx 9700 Rp 2.200.000 Rp 1.700.000 Blackberry Onyx 9780 Rp 3.200.000 Rp 2.400.000 Blackberry Orlando 9380 Rp 2.600.000 Rp 2.200.000 Blackberry Pearl 8100 Rp 800.000 Rp 600.000 Blackberry Pearl 8120 Rp 1.100.000 Rp 700.000 Blackberry Pearl 8220 Rp 1.050.000 Rp 700.000 Blackberry Pearl 900 3G Rp 2.000.000 Rp 1.450.000 Blackberry Pearl 9105 3G Rp 1.950.000 Rp 1.500.000 Blackberry Strom 9530 Rp 1.450.000 Rp 1.050.000 Blackberry Strom 9500 Rp - Rp 1.250.000 Blackberry Strom2 9550 Rp - Rp 1.500.000 Blackberry Style 9670 Rp - Rp 1.400.000 Blackberry Torch 9630 Rp 1.450.000 Rp 1.150.000 Blackberry Torch 9800 Rp 3.500.000 (-50.000) Rp 2.500.000 (-400.000) Blackberry Torch 9810 Rp 3.950.000 (-900.000) Rp 3.200.000 Blackberry Torch 9850 Rp 3.300.000 (-200.000) Rp 1.750.000 (-250.000) Blackberry Torch 9860 Rp 3.700.000 (-50.000) Rp 3.100.000 (-100.000)