Senin, 05 November 2012

ASAL USUL PULAU BINTAN


Menurut Sahibulhikayat, sebelum bernama Bintan pulau ini disebut Pulau Putih. Sesudah itu, ada orang tua-tua mengatakan bahwa asal mula Pulau Bintan itu dari kata bentan. Berarti kembali sakit yang diderita terdahulu, karena tersalah makan. Ada pula orang tua-tua lain mengatakan, bahwa asal Bintan berasal dari kata lebai atau orang alim yang terdampar di Pulau Putih itu.

Namun kata “berintan” dari sebutan “gunung berintan”, atau gunung yang memiliki intan-permata, lebih banyak diceritakan orang.

Alkisah, terkenallah cantik-rupawannya putri Lencana Muda di Pulau Putih. Tidak heran pinangan datang dari anak raja-raja negeri tetangga, seperti putra raja Pagaruyung dan anak raja Lingga bernama Alam Syah. Mereka mengirimkan utusannya untuk melamar Putri Lencana Muda yang jelita itu.

Raja Johan Syah menunjuk Panglima Bongkok Lela Bangsawan gelar Sri Guman, untuk menyambut para utusan Raja Pagaruyung dan Raja Lingga yang datang meminang putri baginda disaat itu. Konon, utusan Raja Lingga bernama Tun Raja gelar Sri Gumaya, orangnya kasar, pemberang, dan gagah-berani. Karena dipandang pogah, kurang sopan santun, maka lamaran Alam Syah Raja Lingga yang disampaikan oleh Sri Gumayang ditampik. Sebaliknya, pinangan anak Raja Pagaruyung akan berpermaisuri Putri Lencana Muda itu diterima dengan baik dan direstui Baginda Johan Syah raja di pulau Putih.

“Hai. Bedebah!” gertak Sri Gumayadengan murkanya,”berani sungguh orang kaya menampik pinangan raja kami. Ehm... laknat. Kalian rasai balasan dari kami, raja Kuasa di Lingga”
“Ikan bawal, si ikan pari.” Sahut Panglima Bongkok Lela Bangsawan dalam seloka,”Disitu menjual, tetap kami beli”. Tegas Sri Guman.

Kemurkaan Sri Gumaya pun memuncak. Utusan Alam Syah raja Lingga itu pun mengamuk, dan terjadilah huru-hara di Pulau Putih. Dalam kecamuk perang tanding, gagah beradu kederad (kekuatan) ilmu dalam. kebal  beradu perkatahan pasha. Umpamakan singa lapar bertarung dengan buaya terlepas mangsa, begitulah dahsyatnya perang-tarung Panglima Bongkok Lela Bangsawan melawan Tun Jaya gelar Sri Gumaya itu.

“Rasailah kalian” petik Sri Gumaya seraya mengangkat tampin, karung sagu, perangkat pinanganyang dibawanya. Dan dengan secepat kilat, tampan sagu itu dihempaskan ke gunung Putih dihadapannya.

“Buuur... dum!” Alam Pulau Putih menggelegar, cahaya kuning kemerah-merahan pun memancar-mancar.”Biaaar!” kema membela bumi, sinar pun menyala terang . setelah padam sinar putih keperak-perakan,”Blas!” gemerlapan di lingkungan itu.




Panglima Bongkok pun mengeluarkan ilmu saktinya, dengan berdiri kaki tunggal seraya  menjuruskan pancung-laksemaya ditangan menyilang ke arah Pulau Lingga,”Blas, dum-dum!”bergema dahsyat disana, dan alih-alih (tiba-tiba) dalam sekejap mata Gunung Daik di  Pulau Lingga yang bercabang tiga patah satu puncaknya terguling melewati istana, lalu tercebur ke dalam laut.
“Buuur ...“ hilah puncak gunung, Singa menangis kebanggan Alam Syah Raja Lingga.
Sementara gunung-gunung perbukitan dikaki Gunung Putih cahaya gemerlapan terus memancar-mancar,”Blas... blas...” putih berkilau-kilau, seumpama bintang kezhora terbit pagi hari. Cahaya intan masih tersembunyi.
Konon pula beberapa abad kemudian, tatkala Gunung Daik dahulu bercabang tiga patah satu tinggal dua. Gunung putih lekak melekuk ditengah, sepihan tanahnya menjadi Gunung Demit terletak di kaki gunung-genangnya. Dikala itulah berdatangan saudagar Arab, India, dan Jawa. Mereka membeli kulit kayu tengah, dan buah pinang yang merupakan hasil penduduk Bukit Batu di lereng Gunung Bukit Piatu bersebelahan Gunung Demit.
“Masya Allah, Intan! Ada Intan !” kata saudagar Arab seraya menunjuk-nunjuk ke dalam karung-goni buah pinang yang dibelinya,”Ada intan disini,” katanya dengan girang.
“Intan?” saudagar-saudagar yang lain bertanya serentak,”Ada intan di pulau ini? Begitu banyaknya intan itu, hingga masuk kedalam karung-goni buah pinang?” Mereka bertanya kesana-sini.
“Mungkin... mungkin...” anak cucu Panglima Bongkok Lela Bangsawan  keturunan Sri Gumam mengingat-ingat.”Ya, mungkin sekali intan itulah yang berahaya gemerlapan. Sinar kemilau, sejak hempasan tampin sagu zaman Tuk Keripun.
Tampin sagu Sri Gumaya utusan Raja Lingga, jadi segunung berintan?”
Gunung-genang Pulau Putih di darat Perigi Tujuh Bukit Tajas itupun dirambah dandigali, mereka mendulang intan.
“Segunung berintan, di Pulau Intan!”
“Ya, Pulau Intan!” penduduk di lingkungan Pulau Putih bersorak-sorai,”Pulau Putih menjadi Pulau Intan!” kata mereka.
“Pulau berintan,” saudagar-saudagar Arab, India, dan Jawa ikut bersuara bersama-sama penduduk setempat.
“Pulau Be-intan... bein-tan ! Bentan... Bintan! Lidah Melayu penduduk setempat mengucapnya,”Beintan”.
“Bentan... Bintan,” berarti ber-intan, pulau berisi intan yang akhirnya disebut “Bintan” asal “Ber-intan” atau “Bentan” dengan cahaya memanca rgemerlapan.

1 komentar:

  1. Hi mas masku
    teman kamu pada menang puluhan juta
    ayo giliran kamu! menangkan sekarang juga
    Pilih Agen Poker & DominoQQ Yang Terpercaya?
    PIN BB : D61E3506
    Whatsapp : +85598249684
    L ine : Sinidomino
    judi poker

    BalasHapus