Senin, 05 November 2012

ASAL USUL PULAU BATAM DAN DURI ANGKANG


Konon beberapa abad yang Islam berlayarlah Nahkoda Alang gelar Qari Abdul Malik dari Siantan hendak ke Pulau Pinang. Beliau sebenarnya seorang Bugis Mangkasar yang telah lama menetap di Tarempa sebagai tukang perahu tersohor. Termasyur pula memiliki ilmu falak perbinatangan, menjadi nakhoda perahu-dendan guntuk melayari samudra yang luas yang terbentang dari Laut Cina Selatan hingga ke perairan Riau dan Selat Malaka. Karena Alim, banyak ilmu agamanya, nakhoda Alang diberi gelar Qari Abdul Malik oleh penduduk Siantan. Tetapi lidah bugisnya masih kental, dan karan itu tidak mengherankan beliau mengucapkan huruf mati “nun” diujung kata menjadi “nga”. Demikian sebaliknya, huruf mati ”nga” diujung kata diucap “nun”. Siantan tempat tinggalnya, disebut Siantang . pulau Bunguran menjadi Bungurang, disusun Tebang-ladang sebaliknya Teban-ladan.
Menurut Sahibulhikayat, dalam pelayaran dari Siantan ke Pulau Pinang itulah perahu-dendang Nahkoda Alang terpukul angin ribut. Haluan perahu-dendang itu pun diarahkan ke Selat Riau, hampir menyentuh ke pantai Bintan karena berkabut dipangkal malam.
“Lihat itu bintang,” pekik Nakhoda Alang kepada taikong (juru mudi) kepercayaan sedang memegang kemudi. “Ke kanang...nganang...,” beliau menjerit mengatasi suara angin ribut berdesing-desing.
“Kabut... tak kelihatan bintang. Nahkoda !” sahut taikong seraya memainkan kemudi. “Tak kelihatan bintang Nakhoda...”
“Pulau Bintang... awas, dendan ini pecahkena batu rakit Bintang,” jerit Nakhoda Alang lagi”. Ke kanang...naganang... belok ke kanang...,” kata beliau pula searya menunjuk-nunjuk ke kanan untuk menghindari batu rakit Pulau Bintan.
“Oh... ini pulau Ngenang...” pikir taikong sambil membelokkan kemudi, mengarahkan haluan perahu-dendang ke Ngenang itu. Pulau disebelah kanan memasuki Selat Riau itu pun, disebut Pulau Ngenang dari asal kata ke Kanang . karena anginn mendesing-desing, kedengarannya seperti “ngenang”, padahal maksud Nakhoda Alang, pulau disebelah kanan pelayaran .
“ Turung layar kita berdayun”, perintah beliau, maksudnya turunkan layar dan kita berdayung saja. Lantas berdayunglah anak buah perahu-dendang itu, menyusur pantai hingga masuk ke sebuah sungai. Karena air sungai cukup tenang tidak terlambung ombak gelombang walau pun angin ribut tengah membahana. Jalan perahu-dendang dikayuhkan itupun semakin melaju ke hulu, karena diantara arus pasang sedang mengesak ke tepi.
Tetapi tiba-tiba, “dreek... druk, plas...” perahu dendang terhenti, oleng sedikit, dan air sungai pun menyebur masuk ke dalam petak ruang. “Suur...” sekejap mata saja nyaris melimpah.

“Hei ada apa?” pekik Nakhoda Alang sambil memanggil salah satu anak buah perahu. ”terjung ke sungai, lihat apa yang kita langgar?”
Setelah timbul, pelaut yang menyelam itu berkata, “Kita terlanggar langkang kayu berduri? Keras sekali”
“Ha? Terlanggar lankan berduri ? Keras duri lankan itu?” tanya Nakhoda Alang, maksudnya “terlanggar langkan berduri? Keras durinya?”
“Duri lankan kayu, berteras keras, ya Tuan Qari Malik,” sahut penyelam. “keras sekali duri lankan kayu itu!”
“Angkak... angkak...” perintah Maulana Malik, maksudnya angkat saja. ”angkak  duri angkan itu!”.
Penyelam itu pun menolaknya, dan setelah timbul berkata kepada Nakhoda Alang yang berdiri di pinggir perahu-dendang kenaikan mereka itu.
“tidak dapat menolak duri angkang melekat pada batang kayu, Nakhoda!” kata penyelam itu seraya mencuaskan air di mukanya. “banyak batang kayu berduri yang tumbang dalam sungai ini, Nakhoda.” Jelasnya.
“O... sungai berduri lan-kan banyak batan kayu?”
Akhirnya, setelah peristiwa sungai banyak duri lankan kayu itu disebut Sungai Duri Angkang, seperti pendengaran pelaut yang menyelamnya.
Singkat ceritanya, setelah angin ribut teduh maka berangkatlah perahu-dendang Nakhoda Alang ke Pulau Pinang tujuannya. Di bandar itulah mereka berbongkar-maut, menjual-membeli barang dagangannya.
“Kenapa sekali ini Qari Malikterlambat masuk ke Pulau Pinang?” Tanya saudagarlangganan beliau. “Biasanya belum selangtiga bulan perahu-dendang Nakhoda telah masuk.”
“Kami terpukul ribut di tengah jalang , nyaris pecah di Pulau Bintang,” kata Nakhoda Alang alias Qari Abdul Malik orang Siantan, asal Bugis Makasar itu.”Aetelah menganang-nganang, masuk sungai penuh deduri-duri lan-kan batan kayu. Perahu-dendan bocor, laluselama suku bulan diperbaiki,” maksudnya “stelah menganan  masuk ke dalam sungai yang penuh dengan duri langkang batang kayu. Perahu-dendang bocor, lalu selama setengah bulan diperbaiki”.
“Dimana?” tanya saudagar rekanan Nakhoda Alang lagi, karena kurang jelas. ”Di pulau mana berhenti angin ribut itu?”
“Itu, di pulau banyak batan kayu sebelah barat Pulau Bintang,” tutur Nakhoda Alang “Itu... di Pulau Batan”.

Sejak itu, menyebarlah nama pulau di sebelah barat Pulau Bintan, disebut Pulau Batan. Kata sambung menyambung di pelabuhan dagang cukup terkenal. Pulau Pinang dalam abad ke-18 setelah dibuka oleh inggris ber nama Sir Francis Light, tahun 1786.
Kapan Pulau Batam menurut logat Bugis Pulau Batan ini menjadi Pulau Batam? Penukaran “nun” menjadi “mim” tulisan Arab-Melayu diujung kata “Batan” itu, sudah semakin kabur. Tidak diketahui orang lain. Namun terasa enak diucapkan “Batam” daripada perkataan “Batan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar